Sebelumnya

Hujan Dan Kita

30/01/19

Tanpa ku duga , kau menyukai apa yang selalu aku suka. Tentang Hujan kita mempunyai kesamaan. Mendamba rintik rinainya, berusaha memahami arti tangis langit dan juga menikmati derasnya murka selayaknya raungan seorang anak. Kita dengan fasih mendendangkan nyanyian hati kita, tak pernah terburu - buru saat mereka menyapa. Tetap berjalan beriringan, diterpa rintik serupa cumbuan disaat semua orang berlarian atau menutupi bagian tubuh agar tak tercumbu rinai, ahh syahdu.





Beberapa kali hujan kerap menyambangi kisah kita, kisah saat kita sedang malu-malu hujan membantuku lebih dekat denganmu. Dibawah gubuk bersama kawanan sama nasib aku melihatmu dari kacamata yang sudah berbeda. Kau menjelma menjadi yang tak bisa kutangkap netra, menggoyahkan akal sehat. Tak ayal dalam diam, dalam gemuruh kecil, dalam kelambu rintik kau tampak istimewa




Pun saat itu selepas berkurangnya usiaku, di bawah temaram lampu saat kau ucap kau pun mencintai, rintik hujan tak absen menyambangi kita. Tanpa jeda memberi angin, awan kelabu seolah mengerti bahwa ada hati yang ingin digenggam agar menjadi hangat. Ada kata yang kelu yang butuh untuk di telanjangi habis habisan. Sampai semua menjadi licin untuk diungkap, tentang penantian atau tentang rasa sakit yang sekali lagi dibasuh oleh hujan.


Aku ingat pula, ciuman pertama kita berlangsung. Selepas hujan mengguyur ditengah film yang kita yakini sebagai date pertama. Dengan tanpa permisi kau melucuti ku , dengan genggam tangan mencengkram kita distraksi rasa yang meluap tidak terjeda. diakhiri pelukan sepanjang perjalanan dibawah mendung


Pertengkaran pertama kita, tentang sebuah kebohongan kuingat, meruntuhkan gemuruh serta lebat hujan, ditengah raunganku yang tak kalah berapi. Ku ingat kau juga berjanji untuk tidak menghadirkan gemuruhku. Kau redam aku di dalam rengkuh dalam tangis kita berdua, berirama seirama hujan.




Kau berhasil lagi, melucuti rasaku. Diluar sana mungkin banyak yang sedang memperhatikan, bahwa kita ini penipu ulung, mempermainkan entah berapa hati. Terserah, manusia bisa saja menerka menunjuk atau apapun itu. Kau luruhkan dalam keyakinan.


Cara kita beradu mungkin sama atau cara kita merindukan hujan yang selalu ku ingat saat kita tak berada dalam jarak pandang. Dulu mungkin aku takut jika hujan kerap datang, takut akan gemuruh, takut gelapnya menyelimuti. Tapi entah sekarang aku selalu mendamba hujan, seperti sedang menjemputmu pulang. Bahwa aku adalah rumah yang selalu terbuka untuk menyambutmu...

Aksara Renjana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar