Sebelumnya

Jalan Pertama

30/01/19

Di sofa ruang tamu aku berselonjor kaki sambil menantikan kabar kedatangan kamu dan kawanmu. Perjalanan dadakan yang baru semalam kita rencanakan. Ku ingat saat itu adalah Kamis siang di bulan Mei lewat tengah hari kawanmu memberitahukan keberadaan telah sampai pada lokasi titik temu kita. Bergegas pula aku berangkat dengan sedikit tergesa takut kamu lama menunggu. Ini adalah kali pertama kita jalan bersama. Meski bukan mall dan restoran yang kita tuju, melainkan adalah sebuah peninggalan sejarah. Candi. Ya, ini adalah candi pertama yang aku kunjungi denganmu, meski tidak berdua. Laju kuda besiku selalu konstan tak terlalu cepat, aku takut kau tak bisa mengikuti. Terik matahari lebih menyengat saat laju motor kita menyusuri jalanan. Aku menunggangi sendiri kuda besiku berada di depan, sedangkan kau boncengan dengan kawanmu selisih satu motor di belakangku. Kita meyusuri jalan arteri baru, lalu aku selipkan dibawah jembatan layang membelah jalanan. Oke kak, lewat sini. Ucapku tanpa ragu. Meski di hati aku kurang yakin, semoga saja tak lagi salah. Dan benar, jalan tak lagi salah. Dan kamu masih di belakangku. Sialnya aku lupa jalan mana yang akan kita tuju. Beberapa lama kita salah jalan. Aku coba ingat kembali jalan yang pernah aku lalui. Sedikit kau coba memarahiku, mungkin maksudmu menyemangati dengan cara yang berbeda.
Tibalah kita disini. Di sebuah peninggalan sejarah yang tak bisa dinilai dengan harta. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki dipelataran candi ini. Kau juga sama. Besar, mistis, temaram, terik tak menyengat, penasaran, rahasia besar dan masih banyak lagi yang lain.
Mencoba memasuki lebih dalam, langkah kita terhenti oleh panggilan penjaga. Tubuh besar sedikit tambun kulit kecoklatan juga mata memerah yang mungkin kurang tidur, mendatangi dan meminta kita mengisi buku tamu. Kamu selalu berada pada baris paling belakang. Entah kenapa. Aku penasaran sungguh denganmu. Lalu teralihkan dengan kondisi candi dan penjelasan dari bapak penjanga yang menawarkan diri untuk bercerita menjalaskan sejarah apa yang terjadi disini. Dan kamu tetap, di barisan belakang. Sesekali aku menangkap gerakan bapak penjaga yang mengernyitkan dahi saat meelihatmu. Kenapa? Aku semakin penasaran dibuatnya.


Menitih anak tangga semakin membawa kita kedalam area candi. Aku semakin terpukau dengan arsitektur bangunannya, meski sudah ada perbaikan (renovasi/rekontruksi) pada bagian yang rusak. Seharusnya banyak arca di dalam sini, tapi kosong tak menyisakan apa-apa. Hanya bau dupa dari orang yang mungkin sembahyang disini. Pertanyaan dimana-mana dan ingin ku tanyakan pada bapak itu. Belum pertanyaan sempat keluar dari mulutku, bapak itu meminta aku dan kawanmu menunggu diluar. Meminta untuk berbicara empat mata denganmu. Dengan berat dan penasaran aku meninggalkanmu berdua dengan bapak itu. Diluar aku penasaran dengan perbincangan kalian. Penasaran. Hingga pada akhirnya kamu keluar dengan raut wajah kurang memuaskan. Aku tak berani langsung bertanya padamu tentang apa yang terjadi saat itu. Aku menerka dengan caraku. Aku yang hanya bisa merekam yang ada disini dengan mata, membuat jarak agar kalian bisa mengambil gambar dengan perangkat pintar. Yah, tentu dari kejauhan aku masih memperhatikan. Aku selalu mencuri pandang. Entah sejak kapan aku menjadi selihai ini mencuri pandang. Kita beranjak pada candi yang lain. Kau mengiyakan untuk berpindah. Meski harus tersesat dan bertanya sana-sini, akhirnya kita sampai pada sebuah gundukan tanah yang terdapat susunan batu bata dengan pohon tinggi yang akarnya tumbuh di sekelilingnya. Berada di tengah sawah menjadikan tempat ini tampak berbeda. Angin sering kali menabrak wajah dan melambaikan rambutmu kesana kemari.


Aku tak ingat apa yang terjadi setelah ini. Aku selalu bercanda dengan gayaku sendiri. Mungkin tak semua orang bisa menerima candaanku. Termasuk kamu kala itu. Kita membunuh senja sore itu dengan duduk membelakangi candi, melihat sawah terbentang. Matamu membelalak wajar saja di era milenial ini kita jarang menjumpai keindahan seperti ini. Kau tampak malu malu senada dengan jingga langit kala itu. Aku pandangi hingga kau tersadar lalu kemudian kubungkam dan sambil sesekali wajahmu nampak kesal . Ah, jika saja kala itu aku bisa mengulang, tentu aku ingin memperbaikinya. Menjelaskan keinginan untuk bercanda dengan gayaku, membuatmu tersenyum, sekedar membuatmu memperhatikanku, meski semuanya terlihat seperti anak kecil yang menggoda temannya. Kulakukan semua semata hanya ingin melihat gurat senyummu, tapi yang kau tangkap justru lain, maaf. Aku menantikan perjalanan kita berikutnya setelah ini. Ya mungkin sesekali hanya kita berdua, itu pun jika kamu tidak keberatan. Hanya berdua.

Aksara Renjana

Kacamatabulan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar