Sebelumnya

Karsa yang tak tersampaikan

08/01/19


Dua tahun lalu, tepat di jam ini kita menyesap kopi di kedai termasyhur di matamu yang sering kau ceritakan. Ditambah gerimis dan tukang cukur rambut yang tutup lebih awal, kita menelisik ruang kita. Tak ada hal yang menarik kecuali pandangan matamu yang tak lepas, senyummu yang merekah, bibirmu yang menggoda dibawah temaram lampu. Aku tertegun, padamu. Pada kusyukmu, bahwa aku terlena. Tanpa malu aku mencurinya, dari pemilikmu. Hingga hujan membawa hangat tanganmu ke genggamanku yang tanpa sengaja kau semat. 

Meniti jam berdenting, sama merdunya dengan hujan. Sudah pukul 10 kuingat malam itu, tapi kamu sengaja mengulur waktu menjadi 11 hanya karena tak ingin berpisah, lucu karena kita hanya saling diam, menggenggam. Hingga sebuah ide muncul di kepalaku. Memintamu untuk bolos kerja esok paginya, mengantarkan karsa kita yang tak akan habis dalam semalam. Kamu diam, aku ragu apakah ini akan jadi sebuah perjalanan kita dibelakang mereka. Lalu ada anggukan setelah kamu menghubungi tempatmu bekerja. Pukul 8 pagi , hendak menyela bahwa terlalu pagi tetapi hanya kubalas senyum . Lalu kita sama tak bisa tidur memikirkan akan kemana kita ?

Rasanya dag dig dug saat kali kedua aku menjemputmu di rumah. Hujan baru saja berhenti saat aku tiba di gerbang rumahmu. Senyuman hangat dengan sapaan khasmu menyambut. Sepanjang perjalanan kau hujani aku dengan pertanyaan dan aku balas dengan jawaban. Lalu gerimis hadir kian lama kian berubah menjadi lebat. Harus kita tepikan dulu laju motor kita di sebuah tempat berteduh. Tepat disebuah gubuk tua bekas rumah disebelah tanggul lumpur tragedi itu, kita berteduh. Tak hanya kita, beberapa pengendara lain yang tak membawa jas hujan juga berteduh. Ramai dibawah atap tua menikmati dinginnya angin. Sesekali pandanganmu kosong entah kemana. Sesekali juga aku mencuri pandang, paras indah, senyum menawan, dan bibir lembut itu dari pemiliknya. Dan sesekali kita mengobrol hal tak penting hingga perdebatan kemana kita akan pergi setelah hujan reda. Ah, rasanya baru kemarin terjadi. 

Meniti tangga ini, aku teringat sebuah kisah lalu, tentang seorang putri dari kerajaan yang tahtanya direnggut, tentang mimpi yang ditelan paksa dengan jalan yang tak diketahui. Dalam perjalanan nya bertemulah dia kepada pangeran yang menawarkan segala rupa. Sang putri kalang kabut menyebut, pangeran mengamini, hingga pada saat putri meminta cinta sang pangeran dengan serta merta murka, mengamuk dan pergi. Meninggalkan putri di ujung dermaga hatinya. Dalam penantian sang putri, dengan sabar nya melantunkan kidung mimpi berharap dia mendengar, tak ayal terdengar samar, tercium wanginya rindu dinginnya hingga membuat sang pangeran mabuk kepayang, berlarilah pada putri membawa ribuan cinta di hatinya, mengorbankan nyawanya sampai penuh sesak, putri pun tersenyum dan berkata mungkin belum terlambat. Atau sebaliknya?

Di satu sudut candi bibir kita saling melempar kata. Dibawah mendung yang menjatuhkan rintik hujan. Air menggenang diatas tanah cekung basah yang memaksa kita meniti pondasi bata di sisi candi utuh. Kita sama sekali tak membahas perasaan saat itu. Hanya aku yang berjalan di belakangmu sambil sesekali kembali mencuri senyum, paras, serta gestur mu. Aku kebanyakan diam hingga mungkin kau pun jenuh melihatku tak segera memulai. Obrolan itu kembali pecah saat gerimis kecil mulai turun saat kita mulai naik tangga batu. Pertanyaan demi pertanyaan kembali menghujani langkah demi langkah. Ponselku hampir merekam keseluruhan area candi. Tapi tak juga aku berani memotretmu.


Kembali laju motor membawa kita pada tujuan yang berbeda. Dingin yang semakin menguliti tak kita hiraukan. Arah yang kita tuju semakin ragu. Navigasi ponsel semakin samar tak bersinyal. Hingga kita kembali dihadang hujan yang cukup deras. Aku rela basah, tapi akhirnya berteduh pada pos keamanan lingkungan. Yah, ada takut memang ketika disana. Takut dikira kita melakukan perbuatan yang tidak-tidak. Padahal kita tidak melakukan perbuatan tidak-tidak. Mungkin perbuatan iya-iya saja. Bercakap lagi denganmu. Pertanyaanmu kembali menghujamku. Beberapa tak ku jawab. Hanya bisa tersenyum yang sesekali merekah saat melihat kamu tersenyum juga.

Reda pun datang setelah hujan tak terkira. Melanjutkan perjalanan hingga naik area pegunungan kurasa. Entah ini dimana. Entah jalan ini membawa kita kemana. Hanya saja yang ku syukuri adalah kamu masih bersamaku saat ini.

Kita kembali diguyur hujan setelah kita sampai di candi kedua kita. Bedanya kali ini kita ditemani banyak makanan di sebuah warung. Kamu suka hujan dan popmie. Dan kamu menemukannya saat itu. Lengkap sudah bahagiamu. Dan aku bahagia melihat senyum manismu merekah kala itu. 

Sudah cukup sore, hujan sudah reda, dan kita harus kembali. 

Dan setelah itu semua, melepas kepergian dengan jabat tangan dan ucapan terima kasih. Terpikir pun tidak tak sempat. Tapi terjadi terlalu cepat.

Aksara Renjana

Kacamatabulan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar