Sebelumnya

Apa Kau Tau??

20/02/19

Kau tau, berulang kali kusampaikan hal bodoh yang tentu membuatmu akhirnya jengah juga. yaa aku selalu mengulang kalimat : "apa kau mempermainkanku?", "apa kau tak bosan denganku?", atau "apa kau menyesal denganku?". Bukan tanpa sebab tapi juga bukan yang bisa diterima nalar. Kau tau kenapa? karena terlalu banyak manusia datang dan pergi, banyak manusia memikirkan perasaannya sendiri. Bicara atas nama kenapa aku meninggalkan sahabat sekaligus teman terbaikku, dan mempercayai bibirnya hanya karena aku terlalu takut untuk berbicara didepan umum, atau mungkin aku yang terlalu lemah semenjak kepergian ayah secara tiba - tiba.


Kau tau, tak banyak orang peduli, bagaimana perasaan. Aku hanya hidup dalam rundungan pilu, bergantung kepada mereka yang tau - tau juga menusukku. Lantas sekarang ku pertaruhkan kembali, hidup ku dalam meja ini. Semuanya kuserahkan dengan tanpa tapi, hatiku. Berharap Tuhan juga mengamini perjudian kita ini. Sudah habis harga diriku dimaki, dijual, disalahkan untuk popularitas mereka, apakah kau juga begitu?

Kau tau, aku mencintai mu tanpa tapi. Seperti angin yang rela disalahkan karena mengusir mendung tetapi dia puas menggiring hujan ke tempat yang dia ingin, atau seperti kata yang selalu kutulis dalam catatan kaki, atau feed instagram. Tanpa irama, terkesan berantakan tapi kau tau makna nya adalah tentang kamu.


Kau tau, tak apa bagiku jika banyak dari mereka menyalahkanku, menggunjingku, mengakui hakku, ideku. Itu tak penting, tapi jika mereka mengusikmu atau kita aku tidak bisa tidak marah, aku hanya minta bisakah aku diredam, bisakah aku diajarkan untuk memaafkan, diajarkan bersabar seperti yang kau lakukan ketika menghadapi amarahku. Sungguh aku tak bisa sebaik dirimu dalam melakukan itu. Apakah ini terlalu muluk juga?

Lalu kau tau, anganku ini terlalu buruk jika kau baca lagi. Terlalu banyak kata negatif, alkohol, atau nikotin. Tapi terimakasih kau memilihku setidaknya sampai hari ini. menguatkanku selalu, menasehatiku seperti gadis kecil, membasuh air mataku yang selalu tak absen menyambangi , ahh kau pasti sangat lelah mengurus wanita nakal ini. maaf untuk keraguanku untuk luka yang selalu kuhadirkan, untuk tak lelah menyalahkanmu atas sikapmu yang entah membuatku marah.


Kau pun juga jelas tau, mimpiku ini muluk dan terlampau tinggi untuk manusia sepertiku ini. Kau seringkali tertawa kecil melihat anganku. Tak apa, jika memang tidak bisa terwujud boleh kau ingatkan aku kembali ya. Supaya angan kita berdua berpadu.

Terakhir kali sebelum ini semakin ngawur, bisakah kau berjanji denganku. Janji jika ini adalah terakhir, jangan sama - sama mengingkari. Percayalah mungkin menyakitiku tidak akan merusak ku lebih , tetapi melukai perasaan anak anak yang akan kau timang hingga kau tua, apakah kau akan tega? Jangan pikirkan aku tetapi juga kenangan dan perjuangan kita bangkit dari titik ini sampai nanti di garis finish depan itu. Janji??



Tidak ada komentar:

Posting Komentar