Sebelumnya

Empat Belas Februari

27/02/19
Hai, tentunya kamu sudah tau siapa lelaki yang membuat puisi ini untukmu. Tentunya kamu sudah tau kenapa aku membuat ini untukmu bukan? Kau juga tau aku adalah tipikal orang yang kaku dan
tidak romantis. Tapi kau juga tau bahwa aku berusaha menjadi seseorang yang tidak kaku juga romantis. Ah, entahlah. Semesta sepertinya kembali berkonspirasi.


Kau tentu ingat pertama kita bertemu dan menyesap kopi berdua setelah puluhan purnama terlewat bukan? Yang merubah alur hidup kita. Yang menyatukan dua kepala sama kerasnya. Dan entah kenapa aku menikmatinya. 

Tiap kali kepala kita mengeras oleh ego dan ledakan emosi, tiap kali itu juga ada kepala yang meredam. Tak membiarkan keduanya saling keras bertabrakan. Tak membiarkan keduanya saling melukai. Cukup salah satu keras dengan ego dan kepalanya. Dan satunya dengan lembut menenangkan. Dengan sabar menjelaskan. Dan dengan rasa sama-sama tak ingin kehilangan, kepala yang keras kembali menjadi dingin. Berpegang tangan, berpelukan, merendahkan nada. Kadang juga ada air mata di sela prosesnya.

Kamu selalu menggenggam erat tanganku kala kau takut akan sesuatu. Badut misalnya. Saat kita bepergian entah kemana dan tanpa sengaja melihat seorang badut tampil, kau akan menggenggam erat tanganku. Dan sesekali kau bersembunyi dibalik punggungku. Aku tau, punggungku cukup lebar untuk bisa dijadikan tempat sembunyi. Hahahaha.
Atau mungkin saat mendengar suara yang mengagetkanmu. Petir misalnya. Saat kilatan cahanya masih kamu deteksi, langsung tanpa aba-aba kamu tutup telinga dengan kedua tanganmu. Terkadang kamu menutup mata sambil menggenggam tanganku. Tak melepasnya hingga suara petir selesai berkumandang.
Tentu saja, ini adalah sebagian kecil hal yang membuatku ingat tentang kamu. Mungkin banyak hal kecil tentangmu yang aku ingat. Yakin mau dengar semua? Kurasa durasi film Harry Potter kesukaanmu dari seri pertama sampai terakhir tak akan cukup.

Kamu tau, tiap kali mata kita saling membaca satu sama lain, ada tenang di antara kita. Mata kecokelatan yang indah. Kadang kau tutupi dengan kacamata ciri khas, dan juga lensa kontak. Ah, aku ingat pertama kali melihatmu memakai lensa kontak. Saat kita menjelajahi area candi di Mojokerto. Saat itu aku terkesan menghakimi bahwa kamu memakainya hanya untuk gaya-gayaan saja. Padahal niatku adalah untuk bercanda denganmu. Dan candaanku tidak sampai padamu. Ya, itu dulu, sebelum kamu benar-benar menjadi pusat semestaku.

Masih ingat kali pertama bibir kita saling beradu? Saling sentuh? Saling mengecup? Kita memang tak tau malu. Mengambil kesempatan yang ada untuk saling membakar asmara. Di tengah gelapnya teater bioskop, diterangi cahaya temaram dari pantulan layar proyeksi. Bibir kita beradu, genggam tangan kita semakin erat. Masih ingat?
Lalu kita terpisahkan beberapa lama oleh jarak dan udara. Tak bisa merengkuhmu dalam dekapku saat aku rindu sewaktu-waktu. Mengantarmu di stasiun kereta bukan hal mudah. Hatiku bergemuruh untuk beberapa lama. Menginginkan kau tetap baik-baik saja selalu jadi doa yang pertama. Berharap kau tak pergi juga salah satunya. Tapi aku harus mengantarkanmu sampai depan peron, ku harap, lalu melihatmu menghilang di kejauhan oleh laju kereta yang bertolak dari stasiun. Tapi hanya bisa mengantar dari lokasi check in keberangkatan saja. Memelukmu untuk beberapa lama. Lalu melepas dengan lambaian yang kau tak melihatnya.
Beberapa hari terasa begitu lama. Lama sekali. Baru juga beberapa jam kita terpisah sudah saling mengucap rindu. Iya, rindu. Memang rindu yang begitu menancap. Semakin lama semakin dalam. Kadang sesak, tatkala kita bertengkar. Tapi semakin kuat untuk saling merindukan dan saling merasakan dekap satu sama lain. Hingga kau pulang.
Lalu perjalanan pertama kita liburan. Kali pertama kita bepergian bersama dengan adik
kesayanganmu. Sebelumnya memang kita dihadapkan beberapa kali dalam pertengkaran hebat. Bahkan hingga akan saling melepaskan genggam. Namun pada akhirnya kita sama-sama tidak saling melepaskan, menurunkan ego, memaafkan, dan kembali melangkah bersama.
Kita berdua tau bahwa kepala kita sama kerasnya. Watak kita sama batunya. Tapi kita lebih sering mengalah satu sama lain dalam menghadapi. Lebih lembut dalam bertutur dan bersikap saat salah satunya memuncak amarah. Ah, kamu tau? Seperti amarah yang berapi-api bak kebakaran, lalu datang penyejuk yang memadamkan semua apinya. Hanya menyisakan api kecil yang menghangatkan jiwa.
Adek ingat tahun baru kemarin? Acara yang baru pertama kali kita lakukan. Melewati akhir tahun bersama dan memulai akhir tahun bersama. Dan salah satu harapan juga keinginanku adalah melewati tahun-tahun setelah dengan adek sebagai istri dan juga ibu dari anak-anak kita.
Aku memang bukan seorang lelaki sempurna yang diimpikan olehmu. Bahkan kamu sendiri bilang bahwa aku juga bukan tipemu. Mungkin juga aku begitu. Tapi semesta juga berkonspirasi menyatukan kita dalam sebuah hubungan yang lebih serius lagi. Kenapa? Agar kita saling memahami satu sama lain. Saling menerima keadaan yang sudah terjadi dan yang akan terjadi. Saling menjaga satu sama lain. Saling menguatkan satu sama lain. Berbagi senang, menguatkan saat duka, meredam saat amarah, dan semua yang dilewati setelahnya.
Hari ini kau bilang adalah momentum sebuah hari kasih sayang yang dirayakan tiap satu hari dalam
setahun. Dan kita berdebat tentang itu di hari sebelumnya. Ah, aku minta maaf untuk selalu mendebatmu dengan argumenku yang kadang keliru. Dan kamu selalu membalas dengan argumen yang dapat diterima dengan baik. Meski kadang berujung bertengkar, tapi kita tidak pernah ingin bertengkar seterusnya bukan? Ya, hari ini adalah hari kasih sayang pikirku. Satu hari dalam setahun.
Hmm.. Rasanya aku ingin menyanyikan sebuah lagu. Yang mewakili perasaan dan hari sekarang.
"Sayang, Valentine untukmu tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahunku. Bukan tentang bunga dan coklat, tapi tentang siapa yang tak pernah pergi saat kau terluka, aku orangnya. Sayang, Valentine untukmu delapan ribu tujuh ratus enam puluh jam dalam setahunku. Bukan tentang perayaan, tapi tentang siapa yang tak pernah pergi saat kau terluka, menemanimu suka dan duka, setiap hari, bukan hanya empat belas Februari."


Tertanda.
Mas



Tidak ada komentar:

Posting Komentar