Sebelumnya

Tanpa makna, kamu

20/02/19

Akan kuceritakan lagi padamu tentang rasaku selama kau pergi. Tulisan ini ada pada bab kedua perjalananku melupakan rasa. Seumur - umur aku tak pernah mampu menterjemahkan perasaan, pada ayah manusia pertama yang menyayangiku dalam keras nya menjadikanku gadis kuat, setiap kita membunuh waktu ntah pada setiap perjalanan dia hanya akan memutarkanku lagu kesukaan, mendengarku berdendang lirih kalau aku diam memandang kaca jendela dia mulai bicara, apakah aku tak suka musiknya? atau aku sedang mabuk perjalanan. atau saat kami menonton acara tv yang ritme nya sama setiap tahun kami setia pada diam, tak pernah ayah berbicara bertanya bagaimana hariku, sudah makankah aku, sakitkah aku. Sampai berbatang batang nikotin dan kopi hangat yang kusiapkan sebelum dia pulang kerumah dia sesap habis bersisa ampas dan kau beranjak pergi kekamar, ntah berbuat apa.

Aku menjadi gadis berwatak keras, pendiam, dan hampir tak pernah keluar rumah. Kala magrib menyapa aku sudah siap dengan selimutku. Tak pernah juga aku terlibat obrolan seru dengan seisi rumah, aku ditempa untuk tak pernah berkata bagaimana mestinya perasaanku atau bagaimana rasanya mencintai.


Sampai saat pertemuan pertama kita berakhir dan berujung pada gemuruh aku mendambamu setiap waktu. Yang tak pernah bisa dihadirkan manusia manapun, kuingat kala itu kita tak pernah terlibat obrolan, hanya sering kuperhatikan kau bercengkrama dengan kekasihmu. Dia yang tinggi semampai, bertubuh ideal, rambut beriak kulit putih bersih kontras dengan ku yang kecil, berpipi tembam, dan rambut panjang luruus seperti sapu haha tak dapat kuhindari aku kalah telak. Kuperhatikan caramu memperlakukannya, kamu seperti berbicara pada kawan obrolanmu terkesan lurus saja, candaanmu pun begitu. Kuumpat lagi dalam hati bagaimana bisa aku menyukai lelaki yang bahkan tidak bisa memperlakukan wanitanya dengan baik.

Tapi yang lucu adalah, perasaanku tak pernah berkurang malah semakin penasaran. Saat beberapa kali tak dapat melihatmu justru aku tak pernah absen menanyakan kemana perginya kamu. Saat itu aku sangat pandai berkamuflase tidak ada yang akan curiga dengan perasaanku karena mungkin aku hanya terlihat tidak peduli.


Sampai pada saat pertama kali kita keluar bersama , betiga dengan kawanku. Aku melihatmu tergopoh sambil tersenyum karena kamu terlambat menemui kami. Wajahmu terlihat sedikit tembam kala itu, menggemaskan. Dan caraku memperhatikan masih sama, di balik punggung mereka, tersenyum jika ada yang lucu tetapi samar sampai kau tak melihat. Percakapan kita pun berlangsung dua arah, temanku menterjemahkan kata ke kamu begitu sebaliknya. Memang seperti anak kecil, tapi andai kau tau setiap kata atau tatapan kita yang tanpa sengaja bertemu, jantungku berdegup tak tentu arah, dulu juga asma masih setia menyambangiku ketika perasaanku terlalu gembira, terlalu lelah atau terlalu sedih. Bayangkan, aku harus membuat perasaanku tak sebahagia itu dan jika saja aku terlihat sakit maka kekasihku saat itu pasti akan curiga, padahal aku sudah mengatur agar tidak terlalu bersemangat ketika dia memintaku menceritakan hari yang kuhabiskan denganmu, bisa gagal.
Setiap malam, insomniaku jadi kambuh. Memikirkanmu, ntah apa. Lalu dadaku sesak, sakit seperti dihujam sesuatu yang tak terlihat. Sejurus kemudian aku jadi menangis tersedu, dalam sepertiga malam dengan tanpa ditemani siapapun untuk dikuatkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar