Sebelumnya

Tuhan, aku jatuh hati

20/02/19

Semenjak pertemuan pertama kita di dalam perjalanan kita waktu lalu ntah pada tahun berapa. Tau - tau ada yang menggelitik geli. Bertahun aku selalu menampik cinta, ntah dari pasanganku atau siapapun. Aku tau saat itu aku sedang tidak sendiri. Dituntun seorang manusia yang sebenarnya tak seberapa kukenal tetapi kupercaya dengan bodohnya. Sudah ini tak sedang membahas orang lain. Setelah kutau ternyata kau juga sedang tidak berdua, batinku meradang. Tuhan salah lagi, pikirku. Sampai saat setelah pertemuan, kau buatku tak mampu melepas bayangan. Orang bilang cinta itu bisa tumbuh saat pandangan pertama, bullshit pikirku. Tertawa terbahak inikah rasanya dan berusaha memungkiri mati-matian. Kau mungkin juga menertawakan hal yang sama denganku, bukan?

Selepas pertemuan itu aku selalu mendamba pertemuan denganmu lagi. Hingga ntah sejak kapan feed instagramku di penuhi tulisan bodoh. Banyak buku yang kucoreti bayanganmu tetapi tak jua ku tunjukkan dan kutujukan padamu. Aku malu, bahwa semua rima nya berantakan perasaanku juga berantakan tak sebaik mu dalam merangkai semua kata. Tapi otakku selalu berusaha menerjemahkan hatiku dengan tanpa basa basi, menelanjangi kata ku perasaanku, membobardir ku seolah tak ada yang akan peduli mau bagus atau tak bagus hasilnya nanti. Kau sedikit pasti membaca, ada banyak juga yang lalu kuhapus . Apa kau mampu menerjemahkan perasaanku saat itu?? Dan aku masih berusaha tidak tampak didepanmu, berusaha semampuku untuk tidak tersenyum saat melihatmu, Bahwa aku hanya seorang buruk didepan mu, tak ada artinya tak ada makna nya parasku. Tak mampu juga kuhitung detak jantungku, memompa serotonin menyesakkan dadaku. Bahwa senyummu beradiksi serupa bir, candu. Pun juga usahaku mengajakmu berdiskusi dengan mengirim pesan kepadamu, ingat? Tak kunjung peka kau. Gadis bodoh, masih mengharapkan pengampunan tuhan atas permintaanku setiap aku mengadu dengannya. Atas kepemilikanmu kepadaku. Bahkan larut malam pun aku masih mengutuk rasaku ini, sering tak cukup tidurku sering tak lelap dan mengigau, beruntungnya tak terucap sosokmu dalam gumamku. Kelak jika kita masih belum bisa bertemu ujungnya, tak apa hanya dengan senyummu tergambar melalui fotomu sudah membuatku bertahan . Di titik aku masih mencintaimu dalam diam.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar