Sebelumnya

Menuju Hari Bahagia

23/03/19

Jam hari itu menunjukkan pukul 20.00 yang rutin kucek karena tak juga kudapat pesan darimu mendoakanku di hari istimewaku. Memang tampak seperti remaja yang baru kasmaran, hal ini pun menjadi momentum yang praktis membuatku berfikir yang tidak - tidak. Karena seminggu sebelum ini, kamu rutin mengunjungiku tanpa jeda, meruntuhkan benteng yang sudah kubangun bahkan selama 2 tahun begitu saja.

Aku ingat, malam itu aku post sebuah foto kita beramai - ramai tentunya saat sedang lawatan ke teman lama. Saat itu aku tak berfikir kamu akan notice karena meruntut hubungan kita yang tak berakhir baik pun dengan chat kita yang selalu berujung ricuh. Mungkin aku hanya ingin memungkiri kamu saat itu bukan maksudku untuk bersikap dingin. Tapi, malam itu timbul rindu yang membuatku terpancing oleh obrolanmu dan bergemuruh di dalamnya.

Tak ayal beberapa kali kita selalu membicarakan masa lalu yang tidak bernasib baik, meruntuti dimana letak salah dan saling mengakui dan memaafkan. Obrolan kita tidak pernah berhenti di angka 22.00 selalu diatas 00.00 membuat perasaanku luluh lantak. Beberapa kali kita tertidur di tengah asyiknya obrolan, kamu bahkan berhasil membuatku tidur hanya 3jam per hari pun aku tak menyesalinya karena dengan itu kita saling bisa memperbaiki dari kita yang telah rusak menjadikan kepingan utuh.

Kembali lagi pada pukul 20.00 kulihat kamu posting satu foto menandakan kamu dalam sebuah perjalanan, hatiku makin gondok dibuatnya, bagaimana tidak? Untuk mengabariku saja kamu tak mampu tetapi untuk memenuhi feed mu demi warganet saja kamu luangkan. Sempat keluar sumpah serapah, bahwa memang kamu selalu bohong belaka tentang perasaanmu padaku, untuk gadis yang dicinta saja kata selamat sangat sukar di urai bukan?

Tetapi pukul 21.00 handphone ku ramai riuh, kulihat dalam layar ada namamu tertambat disana, sontak ada senyum yang merekah, malu-malu ku buka pesanmu, ternyata berisi video jempolmu dengan beberapa bait doa yang lalu ku notice pertama kali adalah apakah itu jarimu?? Yah kamu berhasil lagi meruntuhkan pertahananku. Tentu dengan syarat hadiah yang kamu janjikan di sore hari tanggal 28 oktober

Pukul 16.00 hanphone ku kembali berdenting, kamu berujar sudah didepan rumah. Dengan canggung aku menegur dan duduk di bangku belakang motormu itu, beberapa menit kita berada di situasi tidak berkata apapun dan kamu membawaku ke cafe dekat rumah. Didalam ruangan yang hanya berisi kita berdua, aku menagih kado darimu dan kamu akui tidak menemukan yang sesuai dengan style ku. Terlibat beberapa jam perbincangan, kamu memutuskan membawaku ketempat yang kamu janjikan beberapa tahun lalu, kedai kopi yang letaknya di pinggir kota.

Jarak tempuhnya sekitar 45 menit kuingat, kamu selalu tertarik membicarakan hal - hal tak terduga seperti mengomentari pengendara dan kusambut riuh tawa. Saat kita sampai disana sudah agak larut, mungkin pukul 20.30. Selepas memesan kita duduk dan memulai obrolan yang sempat tertunda dan tibalah pada pengakuan. Kulontarkan sebuah kalimat yang kurang lebih seperti " kamu selalu tidak berani memperjuangkan apa yang ingin kamu miliki, seperti kamu bicara kamu mencintaiku tapi kamu memungkiri, mau sampai kapan kamu melakukannya? Apa sampai menungguku untuk dimiliki orang lain lagi?" , yang berhasil membuatmu mengutarakan perasaanmu dan memintaku menjadi yang terakhir untukmu. Kamu pernah merasakan sensasi jatuh dari atas tebing? mungkin hal se ekstrim itu yang aku rasakan dan kubalas anggukan.

Ada satu hal yang kuingat dari perjalanan kita menunggu selama itu, bahwa mungkin saat lalu aku mengutuk tuhan karena berani mengambilmu. Tapi ternyata tuhan merencanakan hal yang lebih yang mungkin tak pernah kupikirkan sebelumnya, yang sekarang, detik ini sangat kita usahakan. Menjadi satu, mungkin. Hidup ini selalu penuh dengan kejutan, maka apa kejutan berikutnya?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar