Sebelumnya

My Better Half

23/03/19

Hai apakabar kamu? Sudah kuterima kabar itu dengan baik dan hangat, sapaanmu terlampau menyakitkanku tetapi tetap aku harus rendah diri bukan? Tentang senja ataupun terik yang segalanya mempunyai larik dan irama tersendiri bagi penikmat tak akan ku agungkan siapa pemenangnya karena sejatinya semua sudah punya peminat. Pun dulu saat kita sama seiramanya, merekam senja kita larut dalam jingga serupa dan tak ada sengat memicingkan mata kulihat, berbeda saat kita menikmati terbit seusia terik ada binar yang harus kusembunyikan dalam teduh topi kesayanganku yang tak absen bertengger, atau dengan lengan panjang berbalut kaus kaki kita takut terbakar.

Lucunya sekarang kita saling mengutuk atas nama cinta yang dahulu pernah ranum. kamu melucutiku habis tak bersisa berharap aku tak mampu menampik bias yang mengganggu ini, tidak kamu salah justru aku terbahak sekarang menertawakan keluguanmu dalam mencintai wanita sedangkal itu.

Sekarang, aku mempunyai malaikat pelindung, seorang lelaki biasa saja tidak mencolok tampannya cukup untuk membuatku meleleh setiap pagi. Dia selalu siaga seperti kedai fast food 24/7 tanpa henti membuatku takjub dan bahagia. Kamu tau aku sangat beruntung memilikinya. Dia dengan sangat berapi menunjukkan amarahnya pada dirinya sendiri, dan kemudian menangis sejadinya sambil berlutut membuatku merengkuhnya dalam peluk dan menghentikan segala amarah, dengan perasaan membuncah ku cumbui dia hingga terlelap dalam tidur. Betapa dia seperti bayi kecil yang hati hati kujaga.


Kamu pasti sedang berfikir aku berlebihan, kujawab dengan anggukan mantap tanpa ragu, memang aku selalu berlebihan dalam mencintai. Dan kamu sempat bicara bahwa aku sangat bangga memamerkan dia sebagai satu yang agung, tak kutampik juga masalah itu, siapa yang tidak bangga dengan seorang lelaki penyabar, penyayang, romantis, penuh kejutan ini. Dia yang rela tangannya kram berjam jam hanya agar aku bisa bersandar di bahunya, dia yang rela kujadikan sandaran kala dunia ini merajaiku. atau dia yang selalu menggenggam tanganku di tengah jutaan mata, melindungiku dari desakan massa yang ingin dapat barisan depan di sebuah konser. Membuatku tak henti bersyukur telah kehilanganmu dan betapa aku bersyukur hingga detik ini kamu masih berusaha meruntuhkanku yang menandakan kamu merasa tak nyaman dengan kebahagiaanku, atau kamu malah tidak lebih bahagia dari aku??


Sudah tak usah kau ragukan apapun itu, jawabannya sudah kita ketahui benarnya, akupun tau kamu tak perlu pembenaran dari siapapun terlebih aku. Senjaku masih tetap berwarna jingga kemudian berubah menjadi biru , tak akan berubah meski mendung kerap menyapa. Hujanku juga masih sama deras dan teduh untuk ku dan dia, yang biasanya kita nikmati berdua di atas motor tanpa pelindung apapun, kita nikmati dengan laju tak terburu buru. Dia tau bagaimana cara menikmati hujan dan senja secara bersamaan, kita selalu mempunyai rute tak terduga untuk perjalanan kita. Perkenalkan dia pendamping  hidupku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar