Sebelumnya

Kamu Dan Kamu

04/04/19
Hai.. Selamat bertemu lagi . Kali ini apa rasanya berbicang denganku tanpa sekat? tanpa jarak? tanpa aturan.. Kamu, berapapun kutulis tak akan cukup. Kamu, berapa lama kuceritakan tak akan puas. atau kamu, berapa lama kudamba, tak akan mampu. Berbicara tentang waktu yang tak lengkap hadir tanpa penantianku untukmu, lama dan lekat. Kamu, juara bertahan dari sekian banyak nama dan rasa yang pernah kukecap. Aku tak cukup tau, lewat apa kamu masuk? dan dengan apa kamu merasuk? pertanyaan macam ini selalu kutunggu jawabnya tapi belum juga kutemui pasang jawabnya. Kamu, bermain di otakku setiap aku menggenggam tangan yang lain, setiap aku berpeluh dengan pilihan yang sulit. Kamu, hadir instant tanpa perlu dipanggil empunya hati, tanpa permisi merajahku, melucuti malu ku.



Sesekali sekarang aku tak dapat percaya, kamu hadir seperti mimpi, mimpi yang tak ingin kusudahi. Kupikir kamu adalah makhluk yang kaku, egois dan suka mempermainkan perasaan ntah berapa banyak wanita. Bukan tanpa alasan, Kamu pernah terlibat suatu obrolan menyebalkan dengan lawan jenis, membuatku terbakar hangus tak bersisa. Kamu pernah menjadi mimpi burukku juga tentu, tak butuh waktu lama untuk buatku muak dengan cinta. Tapi kamu membangkitkan gairah itu kembali, dengan hati - hati dan dengan hatimu. Kutaruh lagi rasaku yang kadung tumbuh ranum, seperti pohon gersang yang menjadi hijau kembali di bukit yang sering kita ceritakan.

Kamu, aku memanggil dalam sepertiga malam, mengais nafasmu dalam tak kubiarkan habis dimakan fajar. Bahkan dengan semesta pun aku tak ingin berbagi, lewat derau kau lucuti pertahanan, kau mendobrak benteng rasaku, menjadikan itu bandang seusia hujan semalan mengguyur. Kamu kamu aku kehabisan kata pada malam kedua itu tak dapat kusembunyikan rona merah jambuku. Kita bermekaran pada saat itu, merekah indah.



Kamu, dengan mesranya memeluk rinduku kembali, beradu satu. Kamu tak lelahnya memberiku pengertian akan hal yang membuatku meradang. Kamu mengajariku cara melihat dunia yang sebelumnya tak dapat kunikmati. Kamu, memberiku tiket kontan kebebasan, memberiku kebahagiaan yang sempurna. Bukan tentang uang, atau tentang barang mahal.

Perjalanan kita selalu juga tanpa rencana, kamu membawaku ketempat baru, yang tidak ada pada to-do-list kita seumpama menemukan surga baru. Kamu membiusku dengan keintiman alam, atau dengan sejarah yang buatku takjub .


Untukmu, sekarang aku tak perlu khawatir akan apapun bukan? asal dengan pelukanmu yang nyaman itu aku bisa selalu bertahan, dari semua beban atau beratnya isi kepalaku. Maka jangan lelah untuk memelukku. tetaplah menjadi istimewa ya, agar bisa kita nikmati ini sampai tua nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar